0

Haryo Pamoe: Senang Bermain dengan Makanan

 

Wajahnya sudah tak asing lagi di layar kaca. Sejumlah program kuliner pernah dilakoni oleh chef bertato dan hobi mendengarkan musik metal ini. Baginya makanan adalah wajah suatu bangsa dan memasak bagaikan mainan yang tak pernah membuatnya bosan.

Para pencinta kuliner tentunya sudah akrab dengan wajah Chef Haryo Pramoe, pria yang kini dikenal lewat program kuliner di sebuah televisi swasta. Di tengah-tengah kesibukannya, Chef Haryo yang lebih suka disapa tanpa sebutan ‘chef’ ini menyempatkan diri berbagi cerita dengan detikfood.

Seulas senyum terlintas di wajah pria yang berpostur tinggi dan berkulit kecoklatan saat menyambut kedatangan detikfood. Berbalut celana jeans belel dan baju kaos berlengan pendek Chef Haryo tampil santai. Chef yang memiliki sejumlah tato dan penampilan cuek ini ternyata menyimpan segudang cerita menarik tentang pengalaman hidupnya.

Haryo kecil tumbuh dan dibesarkan di daerah Pluit, Jakarta Utara yang juga merupakan daerah Pecinan. “Selain kecintaan orang tua dengan dunia kuliner, pengalaman tinggal di Pluit juga menjadi alasan saya sangat menyukai makanan khususnya peranakan,” ujarnya saat ditanya tentang awal mula dirinya jatuh cinta terhadap dunia masak-memasak.

Tanpa restu dari orang tua, Haryo yang mengaku sangat bandel semasa remaja pada tahun 1994 melanjutkan kuliahnya di Akademi Pariwisata Trisakti (APT). “Saat tingkat 2 saya terpaksa harus drop out ,” ujarnya sambil tersenyum. “Alasannya karena tidak ada biaya sebab waktu itu saya membiayai kuliah sendiri,” lanjutnya lagi.

Sejumlah pekerjaan magang pun sempat dilakoninya termasuk sebagai busser di Hard Rock Café Jakarta. Pengalaman sebagai busser itulah yang rupanya menjadi titik balik kehidupan pria kelahiran 34 tahun silam ini.

“Saat magang itu saya melihat operasional sebuah restoran, disiplin, etos kerja benar-benar dijalankan. Disini pula saya menyadari pentingnya ‘dapur’. Sungguh pengalaman yang sangat membekas bahkan saya sempat terobsesi dengan iga bakar Hard Rock,” jelasnya sambil tergelak.

Pada tahun 1999, Haryo memperoleh beasiswa dari Christlijke Hoogeschool Noord Nederland. Selama di Belanda ia sempat menjadi Management Trainee di Indrapura dan Assisten Executive Chef, El Nino Tapas Bar sebuah restoran Spanyol.

“Di El Nino saya bekerja selama 6 bulan. Saya mencoba membuat terobosan dengan membuat makanan Indonesia yang memakai nama Spanyol. Cukup kaget juga karena makanan tersebut sangat disukai oleh pengunjung,” kenangnya.

Pengembaraan hidup membawa Haryo hijrah ke Amerika menjadi Sous Chef di Hyatt Metro Denver. Mulai dari memasak sekaligus perawat orang jompo dan penderita Alzheimer pernah dilakoni Haryo saat tinggal di Amerika. Sayang peristiwa pengeboman 11 September membuatnya harus hijrah ke Kanada.

Di Kanada dengan cepat ia memperoleh ijin tinggal dan pekerjaan di pabrik hingga akhirnya menjadi Custom Cuisine. Dengan pekerjaannya ini ia bertugas menyajikan hidangan untuk para selebritis seperti Celine Dion, Brian Adams, Beckham, dll.

Di luar dunia masak-memasak, pria penyuka motor besar, musik metal dan underground ini sangat mencintai dunia seni. Di rumah saya tidak suka memasak karena itu saya tidak cerewet soal makanan,” ungkap bapak yang memiliki seorang putra berusia tiga tahun ini.

Di usia 25 tahun, Haryo membuat keputusan untuk menjadi bos untuk diri sendiri. Astrid Noveira adalah nama seseorang yang berjasa memasukkan Haryo dalam dunia pertelevisian di Indonesia.

Iseng-iseng ia pun memasukkan Cv ke sebuah stasiun TV. Hal inilah yang membuatnya dilirik televisi swasta untuk mulai membuat program kuliner, seperti Foodtastic, Seleb Masak, Sendok Garpu, dan Harmoni Alam. Selain sibuk mengurusi Kedai Iga Bakar Sendok Garpu miliknya, kesibukan lainnya adalah melakukan demo masak dan menjadi juri di beberapa acara kuliner.

Saat ditanya apa arti memasak buatnya Haryo pun berujar, “Memasak itu tidak kaku dan menyenangkan seperti mainan anak-anak, sehingga pria atau wanita harus bisa memasak. Jangan sampai kita menjadi generasi fast food. Inilah yang ingin saya ubah.”

Untuk kuliner Indonesia Haryo Pramoe yang merupakan cucu Menteri Perekonomian di Era Soekarno ini memiliki harapan yang sangat besar. “Saya ingin sekali mempopulerkan masakan Indonesia lewat Asian Food Channel. Saya berharap hal ini memperoleh dukungan dari pemerintah sebab masakan adalah wajah dan ujung tombak dari budaya suatu bangsa,” ujar Haryo menutup pembicaraan.

Nah, untuk para pencinta detikfood Chef Haryo Pramoe telah mempersiapkan sebuah resep spesial berupa iga bakar.

Iga Bakar Bumbu Pecel

Bahan:
2 kg iga sapi
4 siung bawang putih
50 g bawang bombay
½ sdt merica bubuk
1 sdt garam
Bumbu pecel:
500 g kacang tanah, goreng, haluskan
Haluskan:
5 buah cabai merah
5 buah cabai rawit
3 lembar daun jeruk purut
8 siung bawang putih
50 g gula jawa
1 sdt asam jawa
2 sendok makan gula pasir
2 sdt garam

Cara membuat:

  • Rebus iga dalam air secukupnya selama 1 jam hingga empuk, lalu angkat.
  • Bumbu Pecel:
  • Tumis bawang putih dan bawang Bombay hingga layu.
  • Tambahkan bumbu halus,aduk sampai layu. Angkat.
  • Campur bumbu dengan kacang halus sambil campurkan air secukupnya hingga kental.
  • Celupkan iga rebus dalam bumbu pecel hingga terbalut rata.
  • Bakar iga dengan menggunakan api arang hingga wangi sambil seekali olesi bumbu.
  • Sajikan dengan daun kemangi dan nasi panas.

Untuk 4 orang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>