0

Chef Haryo Pramoe: Celebrity Chef Seharusnya Tak Sekadar Tampil Keren


Namun, beberapa pihak memandang sebelah mata. Mereka beranggapan, bisa memasak dan berpenampilan menarik saja tak cukup untuk membuat mereka sah disebut chef. Sebenarnya, apa itu chef, dan siapa yang berhak menyandang ‘gelar’ tersebut?

Chef (baca: syef) berasal dari Bahasa Prancis yang berarti ‘pemimpin’, ‘kepala’, atau ‘ketua’. Namun istilah chef yang dikenal secara luas adalah kependekan dari chef de cuisine, alias kepala di dapur.

Di beberapa negara, istilah chef tak diterapkan pada semua juru masak, melainkan hanya yang memiliki jabatan tertinggi. Juru masak yang berada di bawah chef disebut koki (cook). Ada pula yang membatasi sebutan chefkepada orang-orang yang berpendidikan kuliner dan telah malang-melintang di industri restoran saja.

Namun, menurut Haryo Pramoe, chef tidak harus lulusan sekolah kuliner dan memakai pakaian khas chef. “Master chef sebenarnya adalah ibu-ibu PKK, ibu rumah tangga yang memasak rendang di Sumatera Barat, ibu yang membuat hidangan untuk keluarganya di rumah, dan sebagainya,” kata pria yang pernah bekerja di beberapa restoran dan hotel di Belanda dan Amerika Serikat ini.

Terkait tren celebrity chef, Haryo menilai bahwa industri televisi melihat kuliner dan chef sebagai komoditas menarik. “Sayang, TV di Indonesia lebih mengedepankan hiburan daripada edukasi,” ujar Haryo saat ditemui Detikfood di acara Pecha Kucha (24/06/2014).

Menurut Haryo, terkadang TV hanya mementingkan penampilan celebrity chef tanpa memperhitungkan kemampuan memasaknya. “Mereka harus ingat kalau mereka punya senior yang menonton aksi mereka,” kata Haryo, merujuk kepada chef-chef profesional.

“Cantik dan tampan, sah-sah saja karena itu adalah komoditas. Namun, mereka harus punya passion, mendalami, serta menguasai bidang kuliner. Contohnya adalah Gordon Ramsay. Dia tidak tampan, tapi dia punya skill dan karakter kuat,” Haryo berpendapat.

“Jamie Oliver juga, lebih diangkat tentang gayanya yang bebas dalam memasak dan tak perlu masuk sekolah kuliner untuk jadi chef,” jelas Haryo. Jadi, menurutnya, industri penyiaran seharusnya lebih menekankan pada keterampilan dan pencarian karakter yang ingin ditonjolkan dari celebrity chefbersangkutan.

Karena disaksikan banyak orang, celebrity chef juga harus bertanggung jawab. “Jangan sampai penonton mengikuti contoh yang salah,” tutup Haryo.

(odi/fit)

Fitria Rahmadianti - detikFood

Kamis, 26/06/2014 17:14 WIB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>