About Haryo Pramoe

 CHEF HARYO PRAMOE

Sosok chef yang satu ini tentu sudah tak asing lagi di mata masyarakat. Sederet acara memasak di televisi pernah merasakan jasanya. Sebut saja acara Menu and Venue (Metro TV), Harmoni Alam (Trans TV), Icip Icip (Asian Food channel), Foodtastic (ANTV), Sendok Garpu (Jak TV), hingga Seleb Masak (Global TV). Kini, Haryo tengah merintis berdirinya Indonesian Food Channel, sebuah saluran TV berbasis youtube yang direncanakan sebagai saluran TV khusus kuliner.

Dibandingkan dengan chef lainnya, Haryo memang sedikit berbeda. Jiwa nasionalisme sangat menggelora dalam darahnya. Menjadi cucu Sumanang SH, seorang Menteri Perekonomian di Era Soekarno, rupanya sangat membekas erat dalam jiwanya. “Memasak adalah fondasi kemandirian suatu bangsa. Bangsa yang mandiri adalah bangsa yang warga negaranya bisa memasak. Orang yang mandiri, pasti bisa masak,” tegasnya bermain logika.

Cita-citanya pun tak kalah unik. Pria kelahiran 8 Maret 1975 ini selalu berangan-angan agar anak Indonesia setidaknya bisa memasak 3 jenis masakan Indonesia. “Anak-anak Indonesia seharusnya diajarkan kembali ke dapur, dan tidak bergantung dengan pembantu saja,” tegasnya.

Indonesia adalah sebuah kekuatan yang dapat mempengaruhi dunia. Kekayaan sumber daya alam, kuliner, seni dan budayanya patut kita berdayakan semaksimal mungkin agar menjadi salah satu kekuatan bangsa Indonesia untuk menembus dunia.

Haryo tergerak membawa nama bangsa melalui masakan. DI matanya, bangsayang besar adalah bangsa yang dikenal karena masakannya. Sebut saja Amerika dengan fast food-nya, Italia dengan pasta, hingga Jepang dengan sushi-nya. “Lucunya orang Indonesia malah berlomba memasak spaghetti. Padahal kita kan punya rendang, sayur lodeh, sate dan berbagai masakan hebat lain yang tak kalah lezat,” ujarnya.

Haryo ingin orang Indonesia bangga dan tetap mempertahankan tradisi masakan nusantara yang begitu beragam. Apalagi masakan kita umumnya menggunakan teknik memasak slow food yang sangat berbeda dengan makanan fast food yang tinggi garam dan lemak. “Setidaknya dengan memasak sendiri, kita akan tahu kondisi makanan sekaligus kebutuhan nutrisi dalam masakan yang kita sajikan untuk keluarga tercinta,” ujarnya.

Orang boleh memandang gayanya yang urakan dengan tangan  dipenuhitattoo. Tapi soal pengetahuan, Haryo tak bisa dipandang remeh. Selain memasak, Haryo ternyata orang yang sangat gemar membaca. Buku-buku politik menjadi ketertarikan utamanya. Sebut saja buku “Di Bawah Bendera Revolusi”, hingga “Tahta untuk Rakyat”. “Buku adalah makanan saya setiap saat,” serunya soal hobi membacanya ini.

Dari buku-buku yang dibacanyaHaryo juga menemukan fakta menarik. Ternyata orang besar pun memiliki hobi memasak. Contohnya saja, Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Mungkin tidak banyak yang tahu di balik sosoknya yang kharismatik, ternyata Sang Sultan punya hobi memasak. Bahkan punya peralatan memasak yang lengkap, lho.

Selain memasak dan membaca, haryo juga punya banyak ketertarikan di bidang lain. Misalnya melukis, fotografi, bermain drum, hiking, hingga custom motor yang sangat dicintainya.

Pengalaman hidupnya pun tak bisa dibilang enteng. Ia kenyang asam garam kehidupan ketika menjelajah hingga Eropa, Amerika hingga Kanada. Pengalamannya tak hanya berhubungan dengan dunia memasak. Haryo pernah mencicipi beratnya bekerja di negeri orang. Perjalanan hidup pernah membawanya menjadi tukang bersih-bersih rumah, menjadi pekerja di pabrik otomotif, bekerja di panti jompo, hingga menjadi perawat bagi penderita alzheimer. “Semuanya memperkaya jiwa saya dalam memandang kehidupan,” urainya.

Soal pengalaman memasak, tentu tak diragukan lagi. Haryo pernah bekerja di Indrapura, sebuah restoran Indonesia di Kota Amsterdam, kemudian menjadiassistant executive chef Tapas El NinoPengalamannya di Belanda berlanjut sebagaiKitchen Supervisor di Hilton Schipol Amsterdam yang pernah mengadakan Asian Food Festival.

Haryo juga pernah menciptakan banyak hidangan inovatif yang diapresiasi dengan baik oleh warga Belanda. Di antaranya Lautan Cinta, seafood salad kuah pempek, Es Krim Serai, Es Krim Bawang Putih, hingga Es Krim Bunga Mawar.

Ketika menjelajah di Amerika, Haryo memulainya sebagai Manager on Development di Registry Resort Florida. Prestasinya makin cemerlang ketika ia berhasil memecahkan rekor best selling ribs di Hotel Hyatt Colorado.

Beberapa bulan lalu, Haryo juga mendapat kesempatan melawat ke Santiago Chile Amerika Selatan bersama Kementrian Luar Negeri. Ia ditunjuk sebagai duta makanan Indonesia (Food Diplomacy). Di sana, Haryo membuat 40 kilogramrendang hitam. “Dalam 3 jam saja, rendang sebanyak itu ludes disantap,” kisahnya senang.

Tentu saja dalam misi food diplomacy ini Haryo melakukan penyesuaian dengan selera lokal. Kepedasan rendang diatur pada level nolalias tidak pedas sama sekali. Masyarakat Santiago kaget, sekaligus kagum dengan rasa rendang yang mendunia. “Sangat-sangat lezat kata mereka,” imbuhnya.

Semua pengalaman mendunia ini ternyata berawal dari doa sederhana ketika Haryo remaja masih duduk di bangku SMA. “Ya Allah, saya ingin melihat dunia,”begitu doa yang ia panjatkan. Ternyata doanya terwujud berkat beasiswa yang diraihnya dan menjadi titik awal perjalanan Haryo di dunia kuliner hingga saat ini.

Haryo punya keyakinan kuat jika Kuliner Indonesia merupakan salah satu elemen penting sebagai mendukung suksesnya dunia Pariwisata di Indonesia. Melalui saluran televisi kuliner, Indonesian Food Channel yang berbasis youtube. Haryo bergerak bersama sejumlah rekannya di bidang sinematografi dan sastra asing untuk menjayakan kuliner Indonesia di dunia dengan memanfaatkan teknologi internet.Biar orang bule bisa mendengar bagaimana dialek Palembang, Makassar, Jawa, Sunda, dan banyak daerah lainnya. Biarkan mereka mendengar keragaman bahasa kita yang asli, lalu kami bantu dengan mencantumkan subtittle ke dalam berbagai bahasa asing,” tutupnya penuh semangat!

Salam Sahabat Masak,

Chef Haryo Pramoe